H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu
sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari
berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
fasik.”(QS. Attaubah [9]: 24).
Tak ada seorang pun di dunia
ini yang dapat hidup tanpa cinta. Hidup tanpa cinta adalah kehidupan
semu yang tidak bernilai. Hati yang kosong dari cinta adalah hati yang
beku dan keras. Jasad yang hidup tanpa cinta adalah jasad yang hidup
segan, mati tak mau. Setiap manusia hidup dengan cinta. Karena itulah
manusia yang kehilangan rasa cinta biasanya akan menjadi jasad yang mati
dan menderita depresi serta gangguan kejiwaan karena ia telah
kehilangan gairah hidup.
Karena itu, semakin besar rasa cinta,
semakin bertambah nilai dan detak kehidupan. Semakin besar keterikatan
seseorang dengan cinta, maka detak nadi kehidupannya pun akan semakin
bertambah.
Melalui ayat di atas, Allah SWT membuat permisalan
timbangan cinta. Cinta kepada bapak, anak, saudara, istri, keluarga,
harta kekayaan, perniagaan, dan tempat tinggal diletakkan pada piring
timbangan pertama. Kemudian, cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di
jalan-Nya diletakkan pada piring timbangan kedua. Jika piring timbangan
pertama lebih diunggulkan dari pada yang ke dua maka kehancuran bakal
menimpa.
Permisalan timbangan di atas menunjukkan perbandingan kekuatan cinta (quwwatul mahabbah).
Karena itu, Allah SWT tidak memerintahkan untuk sekadar mencintai-Nya
begitu saja. Tetapi, Dia menuntut hamba-Nya agar lebih mencintai-Nya
dari pada yang lain. Sebab, “Di antara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat
sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari
kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah
amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS Albaqarah [2]: 165).
Oleh karena itu, mencintai orang tua diwujudkan dengan birrul walidain.
Mencintai anak diwujudkan melalui kasih sayang. Mencintai saudara
diwujudkan melalui kerjasama dalam kebaikan. Mencintai istri diwujudkan
melalui keteladanan. Mencintai keluarga diwujudkan melalui jalinan
silaturahim. Mencintai harta kekayaan, perniagaan, dan tempat tinggal
diwujudkan sebagai sarana peningkatan penghambaan kepada-Nya. Wallahu a’lam.
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Juni 2012
Rujak Cinta
H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah
Pastinya kita mengenal rujak? Makanan yang terbuat dari campuran buah-buahan yang dibaluri bumbu kacang di atasnya. Sungguh enak dan sedap di lidah. Semakin banyak variasi buahnya semakin memanjakan mata. Semakin membuat lidah menggigil nikmat dan terpesona dengan gurihnya rasa. Semakin kuatlah getaran di hati, di otak dan di semua sisi tubuh yang berhubungan dengan indra perasa. Akhirnya sepiring rujak habis tak berbekas dan hanya meninggalkan sedikit campuran kacang tanah yang tak bisa terambil sendok.
Ternyata tidak semua rujak itu terbuat dari campuran buah-buahan. Ada rujak yang tidak memerlukan biaya dalam pembuatannya. Tidak juga memerlukan campuran buah-buahan. Rujak ini terkadang datang tanpa diundang dan pergi lagi tanpa diminta. Rujak ini terkadang sangat sedap dalam kehidupan, namun kadang-kadang juga mendatangkan rasa yang tak enak. Mau tahu rujak apa itu? Sekali lagi mau tahu? Hemm… kita ikuti catatan ini sampai habis. Ok!
Rujak ini menjadi nafas dalam kehidupan anak-anak Adam. Berhubungan dengan pencarian tulang rusuk Adam yang hilang. Berkaitan dengan kelangsungan generasi pewaris tahta kehidupan. Selalu dibicarakan dan tak pernah habis untuk dibicarakan dan didiskusikan. Dialah rujak perasaan cinta. Sebuah rasa yang diselimuti dengan keindahan-keindahan tiada bandingan. Rasa rujak ini ketika menghampiri tak memandang wajah dan rupa, latar belakang ekonomi, status sosial di masyarakat atau jenjang pendidikan. Rujak cinta hadir kepada siapa saja. Dia hadir mengaduk-ngaduk rasa indah dalam hati setiap insan yang merasakannya. Rujak Cinta mengandung unsur vitamin kerinduan yang mendalam. Rujak cinta juga mengandung rasa asam cemburu. Dipermanis dengan manisnya gula kesetiaan. Ditambah baluran kacang kebersamaan pada semua perbedaan bahan cintanya. Dan diperindah dengan gurihnya kesabaran saling memahami.
Begitulah rasa rujak cinta yang mengaduk-ngaduk perasaaan dan emosi dua insan yang merasakannya. Rujak cinta membuat hidup menjadi indah dan berwarna. Kesetiaan, rasa rindu, dan cemburu semuanya menyatu menghadirkan sensasi rasa yang indah. Rujak cinta tak bisa dibeli, dia hanya hadir pada hati dua insan yang diinginkannya. Dia hadir dari pertemuan hati ke hati. Bukan wajah ke wajah atau karena keseringan interaksi. Dia juga tak hadir karena paksaan materi, ketampanan/kecantikan dan ketinggian jabatan. Bahan-bahan cinta hanya hadir saat sang pemilik hati mengaruniakan kepada yang diinginkanNya.
Begitulah cinta, dia membangun istananya dalam hati-hati yang diinginkannya. Dia mempertemukan dua hati dari dua insan berlainan jenis. Dia kemudian mendatangkan campuran rujak perasaan yang indah. Dia menyatukan perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan persamaan. Dia hadir untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Dia hadir untuk mengokohkan cita-cita kehidupan antara dua insan yang bertautan hati itu. Dia hadir untuk mewujudkan pengaplikasian keindahan ajaran Islam secara bersama-sama. Cinta bukan hadir pada jiwa-jiwa pesimis yang hanya ingin mengumbar nafsu. Memburu kenikmatan sesaat dari memperturutkan syahwat-syahwat tak terawat. Tapi cinta adalah pertemuan hati-hati yang ingin memanjakan pengabdiannya pada Allah semata. Pada akhirnya cinta adalah gerakan bersama kenikmatan keindahan surga sebelum surga sebenarnya.
Ketua Yayasan Arrafiiyah
Pastinya kita mengenal rujak? Makanan yang terbuat dari campuran buah-buahan yang dibaluri bumbu kacang di atasnya. Sungguh enak dan sedap di lidah. Semakin banyak variasi buahnya semakin memanjakan mata. Semakin membuat lidah menggigil nikmat dan terpesona dengan gurihnya rasa. Semakin kuatlah getaran di hati, di otak dan di semua sisi tubuh yang berhubungan dengan indra perasa. Akhirnya sepiring rujak habis tak berbekas dan hanya meninggalkan sedikit campuran kacang tanah yang tak bisa terambil sendok.
Ternyata tidak semua rujak itu terbuat dari campuran buah-buahan. Ada rujak yang tidak memerlukan biaya dalam pembuatannya. Tidak juga memerlukan campuran buah-buahan. Rujak ini terkadang datang tanpa diundang dan pergi lagi tanpa diminta. Rujak ini terkadang sangat sedap dalam kehidupan, namun kadang-kadang juga mendatangkan rasa yang tak enak. Mau tahu rujak apa itu? Sekali lagi mau tahu? Hemm… kita ikuti catatan ini sampai habis. Ok!
Rujak ini menjadi nafas dalam kehidupan anak-anak Adam. Berhubungan dengan pencarian tulang rusuk Adam yang hilang. Berkaitan dengan kelangsungan generasi pewaris tahta kehidupan. Selalu dibicarakan dan tak pernah habis untuk dibicarakan dan didiskusikan. Dialah rujak perasaan cinta. Sebuah rasa yang diselimuti dengan keindahan-keindahan tiada bandingan. Rasa rujak ini ketika menghampiri tak memandang wajah dan rupa, latar belakang ekonomi, status sosial di masyarakat atau jenjang pendidikan. Rujak cinta hadir kepada siapa saja. Dia hadir mengaduk-ngaduk rasa indah dalam hati setiap insan yang merasakannya. Rujak Cinta mengandung unsur vitamin kerinduan yang mendalam. Rujak cinta juga mengandung rasa asam cemburu. Dipermanis dengan manisnya gula kesetiaan. Ditambah baluran kacang kebersamaan pada semua perbedaan bahan cintanya. Dan diperindah dengan gurihnya kesabaran saling memahami.
Begitulah rasa rujak cinta yang mengaduk-ngaduk perasaaan dan emosi dua insan yang merasakannya. Rujak cinta membuat hidup menjadi indah dan berwarna. Kesetiaan, rasa rindu, dan cemburu semuanya menyatu menghadirkan sensasi rasa yang indah. Rujak cinta tak bisa dibeli, dia hanya hadir pada hati dua insan yang diinginkannya. Dia hadir dari pertemuan hati ke hati. Bukan wajah ke wajah atau karena keseringan interaksi. Dia juga tak hadir karena paksaan materi, ketampanan/kecantikan dan ketinggian jabatan. Bahan-bahan cinta hanya hadir saat sang pemilik hati mengaruniakan kepada yang diinginkanNya.
Begitulah cinta, dia membangun istananya dalam hati-hati yang diinginkannya. Dia mempertemukan dua hati dari dua insan berlainan jenis. Dia kemudian mendatangkan campuran rujak perasaan yang indah. Dia menyatukan perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan persamaan. Dia hadir untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Dia hadir untuk mengokohkan cita-cita kehidupan antara dua insan yang bertautan hati itu. Dia hadir untuk mewujudkan pengaplikasian keindahan ajaran Islam secara bersama-sama. Cinta bukan hadir pada jiwa-jiwa pesimis yang hanya ingin mengumbar nafsu. Memburu kenikmatan sesaat dari memperturutkan syahwat-syahwat tak terawat. Tapi cinta adalah pertemuan hati-hati yang ingin memanjakan pengabdiannya pada Allah semata. Pada akhirnya cinta adalah gerakan bersama kenikmatan keindahan surga sebelum surga sebenarnya.
Rabu, 20 Juni 2012
Ketika Cinta Tak Berujung Cita
H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah
Cinta itu gaib, tak terlihat tapi bisa dirasakan. Cinta itu misteri kehidupan yang belum terjawab. Terjawab akan suatu arti, terjawab dari suatu definisi. Rangkaian kata yang belum tersusun rapi dari singgasana kerapuhan hati, meski sudah banyak pujangga yang mencoba menguaknya. Pujangga yang sama rapuhnya dengan cinta itu sendiri.
Cinta laksana lautan tak berujung, yang terlihat hanyalah banyu biru berayun-ayun. Laksana batu karang yang membentenginya, gagah tak terkalahkan. Dentuman ombak pun tak kuasa melawan kerasnya keteguhan batu karang. Cinta juga laksana mercusuar di hamparan pasir putih dari barat ke timur. Dia menuntun jalannya para perahu-perahu kehidupan dari derasnya gelombangan dan gelapnya malam di lautan.
Cinta bisa menghanyutkan. Bisa juga menyelamatkan. Cinta laksana burung terbang ke angkasa. Kesejukan dan kehangatannya terasa dari balik awan. Menapaki butiran-butiran kecil air yang perlahan menetes ke gersangnya perut bumi. Bumi tempat dari sang penikmat cinta berdiri menatap jauhnya cita.
Cinta berikan makna juga hadirkan cita. Cita-cita luhur dari sang penikmat cinta. Penikmat cinta seakan tersihir oleh angan cita dari cinta. Apapun akan dilakukannya untuk cita dan demi cinta. Tak jarang sang penikmat ini jadi ketakutan jika citanya dengan cinta tak berujung. Sang penikmat jadi gila, gila karena cinta katanya. Mereka bilang cinta itu buta, apa benar?? Benar cinta buta untuk korban cinta Ketika cinta tak berujung Cita.
Cinta bisa membunuh, bisa juga menyembuhkan. Terbunuh oleh angan cita yang hanya angan saja. Terbunuh oleh bayangan semu sang pujaan hati. Pujaan hati yang menggerogoti hati dari sang penikmat cinta rapuh. Rapuh oleh angan-angan liarnya. Rapuh oleh ketidakkuasaannya. Karena letih menahan derasnya rongrongan nafsu. Gigitannya sangat luar bisa. Dia tak punya kekuatan dari Sang Maha Cinta. Sayang beribu sayang, cintanya lemah tak berujung cinta. Sebaliknya…!
Cinta bisa menyembuhkan. Menyembuhkan hati yang rapuh, jiwa yang merana dan raga yang sendiri. Ketika dia cinta pada Sang Maha Cinta. Dia selalu ada dalam episode-episode yang terlewatkan oleh sang penikmat cinta dari sang Maha Cinta. Dia selalu mengobati luka-luka dari sang pujaan hati yang menggoreskan luka. Dia bisa mencabut duri yang ia tancapkan. Dia berikan semua apa yang sang penikmat cinta butuhkan. Dia berlari mengejar sang penikmat cinta saat, sang penikmat cinta menghampirinya. Sungguh luar biasa kuatnya dari Sang Maha Cinta. Pemilik semua cinta. Pemutar balik dari hati-hati penikmat cinta. Jika penikmat-penikmat cinta mencintainya, takkan ada lagi kata Cinta itu buta, cinta itu busuk, cinta itu duri, cinta itu palsu dan lain-lain. Yang ada hanyalah kesejukan, keindahan dan ketenteraman karena cinta dari Sang Maha Cinta.
Sang Maha cinta selalu ada dalam hati kita, jiwa-jiwa penikmat cinta. Tapi pernahkah kita mencintai Dia? Atau hanya mencintai sang pujaan hati?
Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan cinta. Cintailah Sang Maha cinta agar cinta kita berujung dengan cita. Karena Dia Maha segalanya…
Ketua Yayasan Arrafiiyah
Cinta itu gaib, tak terlihat tapi bisa dirasakan. Cinta itu misteri kehidupan yang belum terjawab. Terjawab akan suatu arti, terjawab dari suatu definisi. Rangkaian kata yang belum tersusun rapi dari singgasana kerapuhan hati, meski sudah banyak pujangga yang mencoba menguaknya. Pujangga yang sama rapuhnya dengan cinta itu sendiri.
Cinta laksana lautan tak berujung, yang terlihat hanyalah banyu biru berayun-ayun. Laksana batu karang yang membentenginya, gagah tak terkalahkan. Dentuman ombak pun tak kuasa melawan kerasnya keteguhan batu karang. Cinta juga laksana mercusuar di hamparan pasir putih dari barat ke timur. Dia menuntun jalannya para perahu-perahu kehidupan dari derasnya gelombangan dan gelapnya malam di lautan.
Cinta bisa menghanyutkan. Bisa juga menyelamatkan. Cinta laksana burung terbang ke angkasa. Kesejukan dan kehangatannya terasa dari balik awan. Menapaki butiran-butiran kecil air yang perlahan menetes ke gersangnya perut bumi. Bumi tempat dari sang penikmat cinta berdiri menatap jauhnya cita.
Cinta berikan makna juga hadirkan cita. Cita-cita luhur dari sang penikmat cinta. Penikmat cinta seakan tersihir oleh angan cita dari cinta. Apapun akan dilakukannya untuk cita dan demi cinta. Tak jarang sang penikmat ini jadi ketakutan jika citanya dengan cinta tak berujung. Sang penikmat jadi gila, gila karena cinta katanya. Mereka bilang cinta itu buta, apa benar?? Benar cinta buta untuk korban cinta Ketika cinta tak berujung Cita.
Cinta bisa membunuh, bisa juga menyembuhkan. Terbunuh oleh angan cita yang hanya angan saja. Terbunuh oleh bayangan semu sang pujaan hati. Pujaan hati yang menggerogoti hati dari sang penikmat cinta rapuh. Rapuh oleh angan-angan liarnya. Rapuh oleh ketidakkuasaannya. Karena letih menahan derasnya rongrongan nafsu. Gigitannya sangat luar bisa. Dia tak punya kekuatan dari Sang Maha Cinta. Sayang beribu sayang, cintanya lemah tak berujung cinta. Sebaliknya…!
Cinta bisa menyembuhkan. Menyembuhkan hati yang rapuh, jiwa yang merana dan raga yang sendiri. Ketika dia cinta pada Sang Maha Cinta. Dia selalu ada dalam episode-episode yang terlewatkan oleh sang penikmat cinta dari sang Maha Cinta. Dia selalu mengobati luka-luka dari sang pujaan hati yang menggoreskan luka. Dia bisa mencabut duri yang ia tancapkan. Dia berikan semua apa yang sang penikmat cinta butuhkan. Dia berlari mengejar sang penikmat cinta saat, sang penikmat cinta menghampirinya. Sungguh luar biasa kuatnya dari Sang Maha Cinta. Pemilik semua cinta. Pemutar balik dari hati-hati penikmat cinta. Jika penikmat-penikmat cinta mencintainya, takkan ada lagi kata Cinta itu buta, cinta itu busuk, cinta itu duri, cinta itu palsu dan lain-lain. Yang ada hanyalah kesejukan, keindahan dan ketenteraman karena cinta dari Sang Maha Cinta.
Sang Maha cinta selalu ada dalam hati kita, jiwa-jiwa penikmat cinta. Tapi pernahkah kita mencintai Dia? Atau hanya mencintai sang pujaan hati?
Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan cinta. Cintailah Sang Maha cinta agar cinta kita berujung dengan cita. Karena Dia Maha segalanya…
Minggu, 17 Juni 2012
Cinta (tak) Harus Memiliki
H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah
Cinta. Hanya satu kata, tersusun dari lima huruf yang berbeda. Sangat sederhana. Kata yang sama sekali bukan kata sulit untuk dituliskan, pun untuk diucapkan. Namun kata sederhana ini menjadi jutaan tema dalam kehidupan. Tema dalam kisah bahagia, kisah sedih yang tak ada habis-habisnya, kisah lucu yang menyegarkan, kisah kegalauan remaja zaman sekarang, kisah sukses penuh semangat, dan kisah-kisah lainnya.
Kali ini aku ingin berbagi tentang cinta antar manusia. Teringat akan sebuah kalimat, “cinta tak harus memiliki”. Kalimat yang cukup populer dan sering dijadikan alasan atau sekadar kalimat penghibur bagi mereka yang sedang dilanda kisah cinta episode kesedihan. Kalimat populer ini jelas ditujukan untuk kisah cinta antar manusia. Cinta pada seseorang yang diharapkan dapat menjadi pasangan hidup, namun tak berujung pada pernikahan. Kasihan. Ah, mereka bukan orang-orang yang perlu untuk dikasihani. Karena rasa kasihan hanya akan menambah kesedihan bagi yang mengalami. Malang. Sejatinya orang-orang yang mengalami episode ini bukanlah orang yang malang. Jika disikapi secara baik, hal ini justru dapat melatih yang bersangkutan untuk menjadi lebih sabar, lebih dewasa, lebih bijaksana, dan selalu yakin serta bersyukur akan pemberian-pemberian dari Allah. Karena yakinlah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik yang kita butuhkan, bukan yang terbaik (menurut kita) seperti yang kita inginkan.
Cinta tak harus memiliki. Sedikit terasa mengganjal dalam hati mencermati kalimat ini. Konon kabarnya, fitrah manusia untuk mencintai. Ya, baiklah kalau begitu. Tapi yang mengganjal di sini adalah seseorang mencintai seorang manusia lainnya sebelum dinyatakan sah dan halal. Apakah salah? Entahlah. Suka pada seseorang sebelum menikah, sepertinya tak ada masalah. Tak ada masalah jika hanya sebatas rasa kagum, simpati, suka karena terdapat teladan yang baik dalam diri seseorang. Tapi apakah harus mencintainya? Mengharapkan seseorang tersebut untuk menjadi pasangan hidup, sepertinya itu juga bukan suatu kesalahan. Sangat wajar jika seseorang mengharapkan pasangannya adalah orang yang baik, shalih/shalihah, mengagumkan, dan terdapat suri teladan yang baik dalam dirinya. Wajar, sangat wajar dan manusiawi. Tapi apakah harus mencintainya? Dan apakah harus “dia”?
Kawan, aku bukanlah orang yang penuh kebaikan sehingga aku pantas untuk menggurui dan menasihatimu. Maaf, sekali lagi, maaf. Tugas kita sesama muslim adalah saling mengingatkan pada saudaranya. Dan kali ini, sejatinya aku ingin mengingatkan diriku sendiri, dan ingin berbagi padamu. Mohon ingatkan aku jika ada yang salah, kawan.
Wajar-wajar saja jika kita suka pada seseorang, mengaguminya, itu hal yang manusiawi. Tapi mencintainya, wajarkah? Teringat seorang teman mengatakan kalimat yang juga cukup populer tentang cinta. “Cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai.” Begitu pula kurasa dengan kekasih, pasangan hidup, seorang manusia yang menjadi pendamping dunia akhirat. Sayang sekali jika kita mencintai seseorang yang belum tentu akan menjadi pasangan hidup kita nantinya. Iya kalau jodoh kita adalah dia. Tapi jika bukan, betapa kasihan jodoh kita yang sebenarnya. Ia yang seharusnya mendapatkan cinta seutuhnya, namun sebagian hati telah tertawan pada hati yang lain. Ia yang seharusnya kita cintai, tapi nyatanya hanya mendapatkan sisa-sisa cinta dari sekeping hati kita yang rapuh ini.
“Jodoh itu tak akan tertukar”, begitu celoteh temanku yang lain. Yakinlah bahwa seseorang yang berjodoh dengan kita nantinya adalah yang terbaik. Jadi tak perlu menyibukkan diri untuk mencintai hati yang belum tentu akan mencintai seperti kita mencintainya. Kalaupun ia juga cinta, belum tentu kan berjodoh. Tak sampai hati rasanya bila menyakiti pasangan yang sebenarnya nanti. Dialah yang seharusnya dicintai dengan sepenuhnya. Bukan dengan sisa-sisa cinta, apalagi hanya sebagai pelarian semata. Ada baiknya jika sekarang kita mempersiapkan diri dan menjaga hati untuknya. Tak ingin hati ini ternoda oleh cinta yang salah alamat.
Cintaku hanya akan kuberikan setelah akad nikah. Ijab qobul yang begitu sakral terucap, menggetarkan hati begitu dahsyat sehingga cinta itu kan tumbuh secara alami. Aku hanya ingin mencintainya setelah ia halal bagiku. Sepenuhnya, tanpa terbagi.
Kembali pada dua kalimat cinta yang cukup populer tadi. “cinta tak harus memiliki” dan “cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai”. Dua kalimat ini terasa bertolak belakang dari satu sudut pandang tertentu. Kalimat pertama menyiratkan makna bahwa cintailah apa saja, siapa saja. Tapi ingat, mencintainya bukan berarti harus memilikinya.
Sedangkan kalimat kedua, cukup lugas. Memberikan pandangan dan pilihan yang sedikit berbeda. Ada perbedaan antara mencintai apa yang dimiliki dengan memiliki apa yang dicintai. Dalam konteks pasangan hidup, Mencintai apa yang dimiliki, ini berarti cinta itu tumbuh setelah seseorang sah dan halal bagi kita. Sedangkan memiliki apa yang dicintai, ini berarti cinta itu telah bersemi indah sebelum seseorang tersebut sah dan halal baginya. Jika kita ingin “memiliki apa yang kita cintai”, maka kalimat “cinta tak harus memiliki” berlaku di sini. Namun tak kan berlaku jika kita “mencintai apa yang kita miliki”. Yang berlaku adalah “cinta harus memiliki”. Karena kita sudah memiliki terlebih dulu sebelum mencintainya. Dan hal ini menyiratkan sebuah isyarat rasa syukur yang begitu besar atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Kalaupun ternyata pasangan kita nantinya tak sesuai harapan, itu artinya Allah ingin kita belajar untuk bersabar. Dan ingatlah, Allah itu bersama orang-orang yang sabar. Di sisi lain, Allah akan menambah nikmatnya bagi yang selalu bersyukur.
Sungguh dahsyat rasanya jika kita mencintai apa yang kita miliki. Hidup dalam bingkai cinta yang tulus berhiaskan kesyukuran dan kesabaran. Kebahagiaan bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Kedamaian dan ketenangan pun akan terus mengiringi dalam setiap degup jantung. Bukankah ini begitu indah, kawan?
Satu hal yang perlu diingat, kawan. Cinta pada manusia bukanlah yang abadi. Jadikan cinta itu sebagai media mengalirnya cinta menuju muara cinta yang paling agung. Cinta pada Allah. Cinta inilah yang hakiki. Mencintai pasangan merupakan salah satu perwujudan cinta pada Rabb yang menguasai jiwa ini. Sebesar apapun cinta itu, tetap tujuan akhirnya adalah cinta pada Sang penguasa cinta. Dialah yang memiliki cinta terluas, cinta tak berbatas. Dialah yang berhak untuk dicintai sepenuhnya. Karena setiap detail kehidupan kita tak bisa lepas dari cinta-Nya.
Kawan, andai dirimu kebingungan melabuhkan cinta karena belum ada seseorang yang halal bagimu, tak perlu merasa galau. Kegelisahan hanya membuat kita terus merasa risau. Ada Allah yang kita miliki dan yang memiliki kita sepenuhnya. Cintailah dengan cinta terbaik yang kita punya. Yakinlah Dia tak akan menyia-nyiakan cinta kita yang seadanya ini. Jika yang kita dapatkan tak sesuai keinginan, bukan Allah tak mencintai kita. Tapi Allah ingin kita belajar menjadi orang yang sabar sehingga kita bisa terus merasa dekat dengan-Nya. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Namun jangan lupa untuk bersyukur ketika yang kita dapatkan sesuai keinginan. Karena rasa syukur itulah yang menjadikan nikmat Allah terus bertambah. Tidak pernah rugi, bukan? Ibarat berdagang, perdagangan yang selalu menguntungkan hanyalah perdagangan dengan Allah, Rabb penguasa semesta.
Ketua Yayasan Arrafiiyah
Cinta. Hanya satu kata, tersusun dari lima huruf yang berbeda. Sangat sederhana. Kata yang sama sekali bukan kata sulit untuk dituliskan, pun untuk diucapkan. Namun kata sederhana ini menjadi jutaan tema dalam kehidupan. Tema dalam kisah bahagia, kisah sedih yang tak ada habis-habisnya, kisah lucu yang menyegarkan, kisah kegalauan remaja zaman sekarang, kisah sukses penuh semangat, dan kisah-kisah lainnya.
Kali ini aku ingin berbagi tentang cinta antar manusia. Teringat akan sebuah kalimat, “cinta tak harus memiliki”. Kalimat yang cukup populer dan sering dijadikan alasan atau sekadar kalimat penghibur bagi mereka yang sedang dilanda kisah cinta episode kesedihan. Kalimat populer ini jelas ditujukan untuk kisah cinta antar manusia. Cinta pada seseorang yang diharapkan dapat menjadi pasangan hidup, namun tak berujung pada pernikahan. Kasihan. Ah, mereka bukan orang-orang yang perlu untuk dikasihani. Karena rasa kasihan hanya akan menambah kesedihan bagi yang mengalami. Malang. Sejatinya orang-orang yang mengalami episode ini bukanlah orang yang malang. Jika disikapi secara baik, hal ini justru dapat melatih yang bersangkutan untuk menjadi lebih sabar, lebih dewasa, lebih bijaksana, dan selalu yakin serta bersyukur akan pemberian-pemberian dari Allah. Karena yakinlah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik yang kita butuhkan, bukan yang terbaik (menurut kita) seperti yang kita inginkan.
Cinta tak harus memiliki. Sedikit terasa mengganjal dalam hati mencermati kalimat ini. Konon kabarnya, fitrah manusia untuk mencintai. Ya, baiklah kalau begitu. Tapi yang mengganjal di sini adalah seseorang mencintai seorang manusia lainnya sebelum dinyatakan sah dan halal. Apakah salah? Entahlah. Suka pada seseorang sebelum menikah, sepertinya tak ada masalah. Tak ada masalah jika hanya sebatas rasa kagum, simpati, suka karena terdapat teladan yang baik dalam diri seseorang. Tapi apakah harus mencintainya? Mengharapkan seseorang tersebut untuk menjadi pasangan hidup, sepertinya itu juga bukan suatu kesalahan. Sangat wajar jika seseorang mengharapkan pasangannya adalah orang yang baik, shalih/shalihah, mengagumkan, dan terdapat suri teladan yang baik dalam dirinya. Wajar, sangat wajar dan manusiawi. Tapi apakah harus mencintainya? Dan apakah harus “dia”?
Kawan, aku bukanlah orang yang penuh kebaikan sehingga aku pantas untuk menggurui dan menasihatimu. Maaf, sekali lagi, maaf. Tugas kita sesama muslim adalah saling mengingatkan pada saudaranya. Dan kali ini, sejatinya aku ingin mengingatkan diriku sendiri, dan ingin berbagi padamu. Mohon ingatkan aku jika ada yang salah, kawan.
Wajar-wajar saja jika kita suka pada seseorang, mengaguminya, itu hal yang manusiawi. Tapi mencintainya, wajarkah? Teringat seorang teman mengatakan kalimat yang juga cukup populer tentang cinta. “Cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai.” Begitu pula kurasa dengan kekasih, pasangan hidup, seorang manusia yang menjadi pendamping dunia akhirat. Sayang sekali jika kita mencintai seseorang yang belum tentu akan menjadi pasangan hidup kita nantinya. Iya kalau jodoh kita adalah dia. Tapi jika bukan, betapa kasihan jodoh kita yang sebenarnya. Ia yang seharusnya mendapatkan cinta seutuhnya, namun sebagian hati telah tertawan pada hati yang lain. Ia yang seharusnya kita cintai, tapi nyatanya hanya mendapatkan sisa-sisa cinta dari sekeping hati kita yang rapuh ini.
“Jodoh itu tak akan tertukar”, begitu celoteh temanku yang lain. Yakinlah bahwa seseorang yang berjodoh dengan kita nantinya adalah yang terbaik. Jadi tak perlu menyibukkan diri untuk mencintai hati yang belum tentu akan mencintai seperti kita mencintainya. Kalaupun ia juga cinta, belum tentu kan berjodoh. Tak sampai hati rasanya bila menyakiti pasangan yang sebenarnya nanti. Dialah yang seharusnya dicintai dengan sepenuhnya. Bukan dengan sisa-sisa cinta, apalagi hanya sebagai pelarian semata. Ada baiknya jika sekarang kita mempersiapkan diri dan menjaga hati untuknya. Tak ingin hati ini ternoda oleh cinta yang salah alamat.
Cintaku hanya akan kuberikan setelah akad nikah. Ijab qobul yang begitu sakral terucap, menggetarkan hati begitu dahsyat sehingga cinta itu kan tumbuh secara alami. Aku hanya ingin mencintainya setelah ia halal bagiku. Sepenuhnya, tanpa terbagi.
Kembali pada dua kalimat cinta yang cukup populer tadi. “cinta tak harus memiliki” dan “cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai”. Dua kalimat ini terasa bertolak belakang dari satu sudut pandang tertentu. Kalimat pertama menyiratkan makna bahwa cintailah apa saja, siapa saja. Tapi ingat, mencintainya bukan berarti harus memilikinya.
Sedangkan kalimat kedua, cukup lugas. Memberikan pandangan dan pilihan yang sedikit berbeda. Ada perbedaan antara mencintai apa yang dimiliki dengan memiliki apa yang dicintai. Dalam konteks pasangan hidup, Mencintai apa yang dimiliki, ini berarti cinta itu tumbuh setelah seseorang sah dan halal bagi kita. Sedangkan memiliki apa yang dicintai, ini berarti cinta itu telah bersemi indah sebelum seseorang tersebut sah dan halal baginya. Jika kita ingin “memiliki apa yang kita cintai”, maka kalimat “cinta tak harus memiliki” berlaku di sini. Namun tak kan berlaku jika kita “mencintai apa yang kita miliki”. Yang berlaku adalah “cinta harus memiliki”. Karena kita sudah memiliki terlebih dulu sebelum mencintainya. Dan hal ini menyiratkan sebuah isyarat rasa syukur yang begitu besar atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Kalaupun ternyata pasangan kita nantinya tak sesuai harapan, itu artinya Allah ingin kita belajar untuk bersabar. Dan ingatlah, Allah itu bersama orang-orang yang sabar. Di sisi lain, Allah akan menambah nikmatnya bagi yang selalu bersyukur.
Sungguh dahsyat rasanya jika kita mencintai apa yang kita miliki. Hidup dalam bingkai cinta yang tulus berhiaskan kesyukuran dan kesabaran. Kebahagiaan bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Kedamaian dan ketenangan pun akan terus mengiringi dalam setiap degup jantung. Bukankah ini begitu indah, kawan?
Satu hal yang perlu diingat, kawan. Cinta pada manusia bukanlah yang abadi. Jadikan cinta itu sebagai media mengalirnya cinta menuju muara cinta yang paling agung. Cinta pada Allah. Cinta inilah yang hakiki. Mencintai pasangan merupakan salah satu perwujudan cinta pada Rabb yang menguasai jiwa ini. Sebesar apapun cinta itu, tetap tujuan akhirnya adalah cinta pada Sang penguasa cinta. Dialah yang memiliki cinta terluas, cinta tak berbatas. Dialah yang berhak untuk dicintai sepenuhnya. Karena setiap detail kehidupan kita tak bisa lepas dari cinta-Nya.
Kawan, andai dirimu kebingungan melabuhkan cinta karena belum ada seseorang yang halal bagimu, tak perlu merasa galau. Kegelisahan hanya membuat kita terus merasa risau. Ada Allah yang kita miliki dan yang memiliki kita sepenuhnya. Cintailah dengan cinta terbaik yang kita punya. Yakinlah Dia tak akan menyia-nyiakan cinta kita yang seadanya ini. Jika yang kita dapatkan tak sesuai keinginan, bukan Allah tak mencintai kita. Tapi Allah ingin kita belajar menjadi orang yang sabar sehingga kita bisa terus merasa dekat dengan-Nya. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Namun jangan lupa untuk bersyukur ketika yang kita dapatkan sesuai keinginan. Karena rasa syukur itulah yang menjadikan nikmat Allah terus bertambah. Tidak pernah rugi, bukan? Ibarat berdagang, perdagangan yang selalu menguntungkan hanyalah perdagangan dengan Allah, Rabb penguasa semesta.
Jumat, 28 Oktober 2011
Cinta Luar Biasa
Cinta luar biasa..
Cinta seorang Kekasih kepada umatnya..
Hingga pada hembusan nafasnya yang terakhir..
Lidah Rasulullah menuturkan tanpa henti..
Ummati.. ummati.. ummati..
Cinta luar biasa..
Kisah cinta Handzalah..
Meninggalkan isteri di malam pernikahan..
Lantaran menyahut seruan jihad..
Akhirnya syahid di medan perjuangan..
Cinta luar biasa..
Seteguh kasih Khadijah..
Tak pernah jemu memberikan dukungan..
Rela mengorbankan segala kemewahan..
Di saat Rasulullah dan Islam dipinggirkan. .
Cinta luar biasa..
Kisah kesetiaan Abu Bakar..
Kasih seorang sahabat yang tiada tandingan..
Insan yang senantiasa membenarkan. .
Sewaktu kata-kata Rasulullah dipermainkan. .
Cinta luar biasa..
Kisah ketabahan Hajar..
Ditinggalkan di tanah yang gersang bersama Ismail..
Bukti kasih seorang ibu yang berlarian mencari air..
Tatkala mendengar tangisan si anak kecil..
Cinta luar biasa..
Umpama keberanian Ali..
Di malam penghijrahan Nabi..
Menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya..
Walaupun jiwa menjadi taruhan..
Cinta luar biasa..
Cinta Asiah, Masyitah dan Sumaiyyah..
Menggadaikan nyawa demi mempertahankan aqidah..
Iman di dada tak sedikit pun goyah..
Karena keyakinan yang teguh atas segala janjiNya..
Kisah cinta luar biasa..
Insan pilihan yang berada di atas jalanNya..
Betapa tulusnya kasih, teguhnya jiwa..
Redha dan sabar menempuh segala ujian..
Merekalah insan yang memahami arti manisnya iman..
Mampukah kita meraih cinta luar biasa..??
Kamis, 27 Oktober 2011
Allah Memang Sengaja
Ketahuilah bahwa…
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang tidak serupa dengan kita, supaya kita dapat menjadi penilai yang baik.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang tidak sama fikirannya dengan kita, supaya kita sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang selalu mengharapkan pertolongan Allah.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang tidak memahami keadaan diri kita, supaya kita dapat kasih sayang yang terbaik, khusus untuk diri kita.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang tidak sempurna, supaya kita sadar bahwa Allah Maha Pemurah dan Penyayang karena mengingatkan kita bahwa dia bukanlah pilihan yang hebat untuk kita dan kehidupan kita di masa depan.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang sangat lain perangainya dengan kita, supaya kita dapat mengambil pengalaman yang tak semua orang berpeluang untuk mengalaminya.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang banyak komplen ini dan itu, supaya kita jadi manusia yang hebat jiwanya.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang tidak penyayang, supaya kita lebih faham bahwa cinta yang terbaik hanya ada bersama Allah.
Memang Allah sengaja menemukan kita dengan orang yang banyak sombong dan bangga diri,supaya kita lebih mengenali kehidupan yang tak selamanya kekal.
Wahai sahabat yang kecewa, menderita dan sengsara karena cinta, fahamilah bahwa kehidupan kita sudah dekat sampai ke penghujungnya.
Hari esok pun kita sendiri tak pasti apakah ia masih menjadi milik kita.
Gapailah keredhaan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya,dan meninggalkan laranganNya.
Percayalah sesungguhnya Allah ‘malu’ untuk menolak permintaan hamba-Nya yang menengadahkan tangan meminta dengan penuh pengharapan hanya kepada-Nya.
Rabu, 26 Oktober 2011
Itulah Cinta
Jika tapak tanganmu berkeringat, hatimu berdebar kencang dan suaramu tersekat di dadamu. Itu bukan cinta, itu SUKA.
Jika kamu tidak dapat melepaskan pandangan mata darinya. Itu bukan cinta, itu NAFSU.
Jika kamu menginginkannya karena kamu tahu ia ada di sana. Itu bukan cinta, itu KESEPIAN.
Jika kamu mencintainya karena itulah yang diinginkan semua orang. Itu bukan cinta, itu KESETIAAN.
Jika kamu tetap mengatakan kamu menyintainya karena kamu tidak ingin melukai hatinya. Itu bukan cinta, itu BELAS KASIHAN.
Jika kamu menjadi miliknya karena pandangan matanya membuat hatimu melompat. Itu bukan cinta, itu TERGILA-GILA.
Jika kamu memaafkan kesalahannya karena kamu ingin meringankan bebannya. Itu bukan cinta, itu PERSAHABATAN.
Jika kamu mengatakan padanya bahwa setiap hari hanya dia yang kamu pikirkan. Itu bukan cinta, itu DUSTA.
Jika kamu rela memberikan semua perkara yang kamu senangi untuk kepentingan dirinya. Itu bukan cinta, itu KEMURAHAN HATI.
Tetapi
Jika kamu tetap bertahan karena campuran antara kesakitan dan kegembiraan yang membutakan dan tak terfahami … menarikmu mendekati dan tetap bersamanya? ITULAH CINTA.
Apakah kamu menerima kesalahannya kerna itu bahagian dirinya dan siapa dirinya? Jika demikian, ITULAH CINTA.
Adakah kamu tertarik dengan orang lain tapi setia dengannya tanpa penyesalan? Jika demikian, ITULAH CINTA.
Adakah kamu menangis kerana kesakitannya walaupun saat itu dia kuat? ITULAH CINTA.
Adakah hatimu sakit dan hancur ketika dia bersedih? ITULAH CINTA.
Adakah hatimu gembira ketika dia berbahagia? ITULAH CINTA.
Adakah matanya melihat hatimu dan menyentuh jiwamu begitu mendalam sehingga menusuk? Yang demikian itulah namanya CINTA!
Minggu, 09 Oktober 2011
Cinta Ini Selalu Untukmu
Saat hati ini berkata
kau lah yang akan menjadi yang terakhir di hati ini
aku tahu, engkaulah segalanya bagiku
kehidupan ku akan terasa hampa, tanpa kehadiran mu
Aku sadar
aku terlalu menyayangimu
aku belum mampu tanpamu
kau sebagian dari hidup ku
Ketika bersamamu
aku menemukan arti memiliki
aku menemukan sebuah kebahagiaan
aku menemukan apa yang tak aku temukan di perjalan cintaku
Sayang..
kau harus tahu
cinta ini akan selalu milikmu
selamanya aku selalu milikmu
jangan pernah belajar untuk meninggalkan aku
karena aku..
SANGAT MENCINTAI DIRI MU SEPENUH HATI KU..![]()
Musim Angin Cinta
Seperti musim yang terus meruntuhkan hujan tanpa bosan
Cinta yang ternoda selalu renta mengirimkan airmata
Kesetiaan tergulung ngeri kerana awan memenuhi hari
Lautan sunyi para nelayan memutus mimpi, camar sendiri
Seperti musim yang terus menangis dengan wajah sepi
Harapan bersama telah hanyut terbawa arus mungkin pupus
Hendak menggapai, galah di perahu tak cukup panjang untuk diraih
Lautan sepi, batu-batu menjadi mati mengingkar janji, sunyi
Seperti musim yang terus melahirkan kelabu tanpa ragu
Mac yang resah membuat kita saling terpaku ..
Arah haluan terasa suram sama gelapnya berlayar malam
Penanda arah terlanjur padam lantaran hati remuk-redam
Kau menuju karang aku terhantam taufan, sama juga karam
Berharap siang awan gelap tak bosan menghadang, nasib malang
Lelaki ikan atau perempuan karam sampai bila melarung sayang
Mencuri perawan sama saja mendulang awan, bayang-bayang
Janji-janji menjadi basi menanti mati sebentar lagi, bisa pari
Aku melangkah ke titik yang paling sepi hari ini..
Tips Menjauhi Zina Hati
Selagi dinamakan manusia, kita mempunyai perasaan suka mengasihi dan
dikasihi. Memang adat kehidupan bahwa kasih cinta didahului dengan perasaan rindu, namun jangan berlebihan.
Kerinduan kepada kekasih, sering kali membekaskan duka, penyakit menyebabkan kelemahan hati. Kita sebenarnya berperang dengan perasaan. Namun, seorang Muslim akan terasa nikmat jika dapat menjauhi keluhan, kesedihan dan kerinduan ini.
Ibnu Qayyim memberikan terapi mujarab mengenai masalah rindu. Sebelum itu beliau memberikan sebab mengapa rasa rindu berlebihan terjadi. Dintaranya : Hati tidak terisi oleh rasa cinta, syukur, zikir dan ibadah kepada Allah sebaliknya membiarkan mata menjadi liar. Pandangan dan renungan mata adalah jalan membawa kepada kesedihan dan keresahan.
Rasulullah SAW bersabda :
Ikhlas kepada Allah.
Ikhlas adalah obat penyakit rindu. Ikhlas kepada Allah artinya selalu berusaha berada di pintu ibadah dan memohon kesembuhan dari Allah. Jika kita ikhlas kepada Allah, Allah akan menolong kita dari penyakit kerinduan melalui cara yang tidak pernah terlintas dalam hati.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :
Memelihara mata dan pandangan.
Pandangan yang berulang-ulang adalah penyebab penting dalam menyalakan api rindu. Orang yang memandang dengan sepintas lalu jarang merasakan hati terusik dan jatuh cinta.
Ibnu Qayyim menyatakan :
Inilah obat rindu paling baik. Tidak semestinya menikah dengan orang yang kita kagumi. Meskipun pernikahan itu dilangsungkan tidak dengan orang yang dicintai dan diidamkan.
Peringatan buat diriku dan dirimu.
Kerinduan kepada kekasih, sering kali membekaskan duka, penyakit menyebabkan kelemahan hati. Kita sebenarnya berperang dengan perasaan. Namun, seorang Muslim akan terasa nikmat jika dapat menjauhi keluhan, kesedihan dan kerinduan ini.
Ibnu Qayyim memberikan terapi mujarab mengenai masalah rindu. Sebelum itu beliau memberikan sebab mengapa rasa rindu berlebihan terjadi. Dintaranya : Hati tidak terisi oleh rasa cinta, syukur, zikir dan ibadah kepada Allah sebaliknya membiarkan mata menjadi liar. Pandangan dan renungan mata adalah jalan membawa kepada kesedihan dan keresahan.
Rasulullah SAW bersabda :
“Pandangan mata itu satu daripada sekian banyak anak panah iblis.”Setiap penyakit ada obatnya. Obat yang terbaik adalah meneguk pengajaran Al-Quran seperti firman Allah :
“Demikianlah supaya kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba kami yang terpilih.” (Surah Yusuf, ayat ke-24)Berikut adalah beberapa tips untuk menjauhi zina hati :
Ikhlas kepada Allah.
Ikhlas adalah obat penyakit rindu. Ikhlas kepada Allah artinya selalu berusaha berada di pintu ibadah dan memohon kesembuhan dari Allah. Jika kita ikhlas kepada Allah, Allah akan menolong kita dari penyakit kerinduan melalui cara yang tidak pernah terlintas dalam hati.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :
“Sungguh jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, nescaya ia tidak akan menjumpai hal lain yang lebih manis, indah, nikmat dan baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya.Doa mengundang sikap, rasa fakir dan rendah diri di hadapan Allah. Oleh karena itu doa adalah salah satu bentuk ibadah yang agung. Ketika kita berada dalam kesempitan, kita bersungguh-sungguh dalam berdoa, merasakan Allah amat dekat mendengarkan rayuan.
Memelihara mata dan pandangan.
Pandangan yang berulang-ulang adalah penyebab penting dalam menyalakan api rindu. Orang yang memandang dengan sepintas lalu jarang merasakan hati terusik dan jatuh cinta.
Ibnu Qayyim menyatakan :
“Orang berakal tidak mudah tergelincir jatuh hati dan rindu, dia tidak tertimpa pelbagai kerusakan. Barangsiapa yang terjun ke dalamnya maka ia termasuk orang yang menzalimi diri sendiri, tertipu dan akhirnya binasa. Jika dia tidak melakukan pandangan berkali-kali terhadap orang yang dikagumi dan usahanya itu merenggut benang asmara, pastilah asmara tidak akan kokoh mencengkam jiwanya.”Menikah dan membina rumah tangga adalah langkah paling baik.
Inilah obat rindu paling baik. Tidak semestinya menikah dengan orang yang kita kagumi. Meskipun pernikahan itu dilangsungkan tidak dengan orang yang dicintai dan diidamkan.
Peringatan buat diriku dan dirimu.
Selasa, 04 Oktober 2011
Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga
Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan
kebahagiaan dalam kehidupannya bersama isteri dan anak-anaknya. Hal ini
sebagai bukti kewujudan rasa cintanya kepada mereka, perihal ini
merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia.
Salah Menempatkan Erti Cinta dan Kasih Sayang
Kita semua mendapati kebanyakan orang salah menempatkan erti cinta dan kasih sayang kepada isteri dan anak-anak, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, dan perkara ini boleh menyebabkan mereka terjerumus dalam lembah kebinasaan.
Cinta sejati yang abadi
Seorang ketua keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi isteri dan anak-anaknya hendaklah menyedari bahawa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak wujud dengan hanya memenuhi keperluan hidup mereka semata-mata.
Salah Menempatkan Erti Cinta dan Kasih Sayang
Kita semua mendapati kebanyakan orang salah menempatkan erti cinta dan kasih sayang kepada isteri dan anak-anak, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, dan perkara ini boleh menyebabkan mereka terjerumus dalam lembah kebinasaan.
Cinta sejati yang abadi
Seorang ketua keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi isteri dan anak-anaknya hendaklah menyedari bahawa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak wujud dengan hanya memenuhi keperluan hidup mereka semata-mata.
Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah dengan memenuhkan keperluan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang berteraskan dari petunjuk al-Quran dan sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, kerana diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat kelak.
Senin, 03 Oktober 2011
Wanita - Sediakah Anda Menjadi...?
” Wahai Tuhan kami, kurniakanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak pinak kami, penyejuk mata kami. Dan jadikanlah kami penghulu bagi orang-orang bertaqwa.”Ya. Penyejuk mata. Suatu perkara yang tidak pernah kita lupa untuk pohon setiap kali kita menadah tangan berdoa. Kenapa Allah ta’ala suruh kita minta penyejuk mata? Sebabnya, itulah yang bakal menjamin ketenangan dan kebahagiaan kita dalam kehidupan nanti.
.
Bagaimana kalau nantinya ada isteri, tetapi seringkali menyakitkan hati kita, raut wajahnya langsung tidak mendamaikan kita, tingkah lakunya ada sahaja yang tidak kena di mata kita. Adakah kita akan bahagia?
.
Bagaimana pula kalau nantinya ada anak. Comel-comel belaka. Tetapi wujudnya mereka begitu menyusahkan kita, sikap mereka kerapkali melukakan hati kita, kedegilan mereka selalu sahaja membuatkan kita hilang sabar dan sakit hati sentiasa. Adakah kita beroleh ketenangan?
.
Tentu sekali tidak.
.
Lantas, kita dianjurkan supaya berdoa. Minta supaya Allah beri pasangan yang mendamaikan hati dan perasaan kita, serta zuriat yang boleh menjadi penyejuk mata kita. Mudah-mudahan, Allah makbulkan doa dan permintaan kita.
.
Suatu lontaran untuk para wanita hari ini, khususnya yang belum berumahtangga.
.
Sedarkah anda , bahawa bakal teman hidup anda setiap hari berdoa supaya anda menjadi penyejuk mata mereka? Sedarkah anda, bahawa mereka tidak pernah melupakan anda dalam setiap doa mereka?
.
Tidak. Saya tidak maksudkan anda mengenali mereka atau mereka mengenali anda.
.
Tetapi hakikatnya, mereka mendoakan anda yang bakal hadir dalam hidup mereka suatu ketika nanti. Sayangnya, anda mungkin terlupa lantaran anda tidak kenal siapa mereka. Kerana itu juga, anda kurang mengambil berat tentang persediaan anda untuk menjadi penyejuk mata mereka.
.
Penyejuk mata?
.
Sungguh, ia bukan tugas yang mudah. Kalau anda fikir ia akan berhasil dengan anda berhias diri, memakai wangian dan berbaju cantik di hadapan mereka setiap hari, sesungguhnya anda silap sama sekali.
.
Anda harus sedar, ramai sekali golongan cantik dan menawan di luar sana yang gagal untuk menjadi penyejuk mata kepada suami mereka. Bahkan sebahagian besar dari mereka berakhir dengan perceraian. Semoga dijauhkan Allah.
.
Menjadi penyejuk mata suami, prosesnya bermula hari ini.
.
Tilik kembali diri anda. Zahiriah dan batiniah. Kedua-duanya.
.
Pertama sekali, bagaimana hubungan anda dengan Allah? Solat wajib dan sunat. Bacaan Al-Quran. Zikir munajat. Selawat serta amalan-amalan yang lain. Berapa peratus yang telah anda capai dan lakukan secara istiqamah?
.
Tahukah anda, faktor paling besar yang menentukan samada anda berjaya atau tidak menjadi penyejuk mata suami adalah ; cemerlang atau tidak hubungan anda dengan Allah? Justeru, perbaiki dari sekarang.
.
Kedua, sikap dan perangai. Carilah seorang kawan yang jujur dan yang anda kira agak rapat serta kenal dengan anda. Sekiranya anda yakin akan kejujurannya, minta pandangannya tentang diri anda, terutama tentang sikap dan perangai.
.
Jika anda dapati diri anda masih dibelenggu sikap meninggi diri, degil, ego yang tinggi, kurang rasa hormat pada orang, suka mengumpat, pemalas dan seribu satu sikap negatif yang lain, maka perkara pertama yang wajib anda buat adalah ; kikis sedaya upaya semua sikap tersebut dari terus melekat dalam diri anda. Percayalah, ia antara faktor yang bakal menggagalkan anda dari menjadi penyejuk mata suami.
.
Ketiga, lihat balik luaran diri anda. Khususnya pemakaian. Sempurnakah anda dalam menutup aurat? Jika masih selesa bertudung ringkas, berbaju t-shirt lengan sekerat dan berseluar jeans separa ketat, maka percayalah anda bakal bertemu kegagalan. Itupun sekiranya anda mempunyai hasrat untuk bergelar penyejuk mata suami.
.
Tidak, ini bukan soal suami anda islamik atau tidak, mengambil berat semua perkara itu atau tidak. Ia adalah soal Si Pemberi Ketenangan, iaitu Allah. Kalau Dia tak bagi, siapa lagi yang boleh bagi?
.
Mudahnya begini. Doa itu kan permintaan kita dengan Allah. Contohnya, kita minta supaya Allah terangkan hati kita supaya mudah belajar. Tetapi kita tidak berhenti dari tabiat suka minum arak. Mana mungkin Allah akan berikan ketenangan itu pada hati kita yang gelap?
.
Sama juga. Suami minta pada Allah, berikan dia penyejuk mata supaya dia beroleh tenang dalam hidup. Tetapi kita pula melazimi maksiat dan penderhakaan kepada Allah. Aurat kita terdedah setiap hari.
.
Akhlak kita langsung tiada ciri isteri mithali. Hubungan kita dengan Allah lompong di sana sini. Lantas, adakah kita layak untuk menduduki tempat ‘penyejuk mata’ tersebut? Bagaimana pula kita yang jauh dari Tuhan, boleh menjadi penyejuk mata manusia?
Sekadar lontaran buat kaum hawa. Ramai di antara anda mahu menjadi isteri solehah suatu ketika nanti. Tetapi usaha ke arah itu masih lemah. Perbaikilah dari sekarang.
.
Bisikkan ke dalam hati anda setiap hari, bahawa anda bakal menjadi penyejuk mata kepada seorang lelaki yang baik suatu ketika nanti. Lelaki itu pula setiap masa mendoakan anda supaya berjaya menjadi penyejuk mata mereka suatu masa nanti. Besar harapan mereka, sanggupkah anda hancurkan begitu sahaja?
.
Jadi mulai hari ini, berusahalah untuk menjadi penyejuk mata suami. Sebenarnya, andai anda mampu melaksanakan langkah pertama yang saya sebut di atas ; iaitu memperbaiki hubungan anda dengan Allah, maka anda sebenarnya telah berjaya melepasi separuh masa pertama piala kemenangan untuk bergelar isteri solehah – penyejuk mata suami.
Cinta Ada Dalam Dada
Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu
tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak
berbalas, tapi kamu tetap mencintainya…
Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi…
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah…
Aku pernah………
Aku pernah tersenyum meski kuterluka karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku…
Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan hilang begitu saja…
Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan……
Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku…
Aku akan tetap mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, kerana memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga……
Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi…
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah…
Aku pernah………
Aku pernah tersenyum meski kuterluka karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku…
Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan hilang begitu saja…
Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan……
Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku…
Aku akan tetap mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, kerana memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga……
Minggu, 02 Oktober 2011
Surat Cinta Seorang Ahli Fisika
Semenjak bertemu denganmu, energi statik benih cintamu telah
mengejutkan gaya pegas jantungku, sehingga jantungku berdetak tak
beraturan bagaikan gelombang bunyi gendang yang tak beraturan saat aku
berada beberapa meter darimu. Refleksi cahaya cintamu telah membunuh
urat mataku sehinga membiaskan bayangan wajahmu yang selalu di otakku.
Pancaran Radiasi Pesonamu membuat otakku tidak bisa berpikir rasional, sehingga elektromagnet dalam hatiku terpengaruh gelombang magnet cintamu. Sejak Saat itu, atom-atom penyusun cinta ini kian mengumpul karena gaya listrik statik dan energi Potensial di hatiku.
Saat jauh darimu, partikel-partikel cintaku tidak bisa diam sehinga melakukan tumbukan-tumbukan lenting sempurna dan menghasilkan energi rindu dengan rumus E = MC2, yang mana M adalah Masa waktu dimana semakin lama semakin jauh darimu maka energi rinduku semakin bertambah besar. Sedangkan C adalah Cintaku padamu yang berbanding lurus dengan Energi rinduku.
Usaha untuk memberikan gaya lorenzt-ku padamu telah kuberikan dengan FL = i B Sin ØØ. Mudah-mudahan dengan penurunan rumus cintaku padamu dapat memahami pemuaian cintaku padamu dan peningkatan massa jenis cintaku agar tekanan cinta dalam hatiku bisa setimbang setelah bereaksi dengan cahaya cintamu. Dimana bila FL adalah gaya cintaku padamu akan berbanding lurus dengan i (arus listrik cintaku) dan B adalah besarnya medan magnet dalam hatiku dan arah sudut refleksi cinta dengan Sin.
I intensitas
L listrik
O optik
V kecepatan
E energi
U usaha
Pancaran Radiasi Pesonamu membuat otakku tidak bisa berpikir rasional, sehingga elektromagnet dalam hatiku terpengaruh gelombang magnet cintamu. Sejak Saat itu, atom-atom penyusun cinta ini kian mengumpul karena gaya listrik statik dan energi Potensial di hatiku.
Saat jauh darimu, partikel-partikel cintaku tidak bisa diam sehinga melakukan tumbukan-tumbukan lenting sempurna dan menghasilkan energi rindu dengan rumus E = MC2, yang mana M adalah Masa waktu dimana semakin lama semakin jauh darimu maka energi rinduku semakin bertambah besar. Sedangkan C adalah Cintaku padamu yang berbanding lurus dengan Energi rinduku.
Usaha untuk memberikan gaya lorenzt-ku padamu telah kuberikan dengan FL = i B Sin ØØ. Mudah-mudahan dengan penurunan rumus cintaku padamu dapat memahami pemuaian cintaku padamu dan peningkatan massa jenis cintaku agar tekanan cinta dalam hatiku bisa setimbang setelah bereaksi dengan cahaya cintamu. Dimana bila FL adalah gaya cintaku padamu akan berbanding lurus dengan i (arus listrik cintaku) dan B adalah besarnya medan magnet dalam hatiku dan arah sudut refleksi cinta dengan Sin.
I intensitas
L listrik
O optik
V kecepatan
E energi
U usaha
Langganan:
Postingan (Atom)













