Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

Betapa Banyak

H. Akbar

Ketua Yayasan Arrafiiyah

 

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…
Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…
Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari
Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…
Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…
Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

Rumah Masa Depan

H. Akbar

Ketua Yayasan Arrafiiyah

النفس تبكي على الدنيا وقد علمت...أن السلامة فيها ترك ما فيها

(Sungguh aneh) jika jiwa menangis karena perkara dunia (yang terluput) padahal jiwa tersebut mengetahui bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkan dunia

لا دار للمرء بعد الموت يسكنها...إلا التي كان قبل الموت يبنيها

Tidak ada rumah bagi seseorang untuk ditempati setelah kematian, kecuali rumah yang ia bangun sebelum matinya

فإن بناها بخير طاب مسكنه...وإن بناها بشر خاب بانيها

Jika ia membangun rumahnya (tatkala masih hidup) dengan amalan kebaikan maka rumah yang akan ditempatinya setelah matipun akan baik pula

أموالنا لذوي الميراث نجمعها...ودورنا لخراب الدهر نبنيها

Harta kita yang kita kumpulkan adalah milik ahli waris kita, dan rumah-rumah (batu) yang kita bangun akan rusak dimakan waktu

كم من مدائن في الآفاق قد بنيت...أمست خرابا وأفنى الموت أهليها

Betapa banyak kota (megah) dipenjuru dunia telah dibangun, namun akhirnya rusak dan runtuh, dan kematian telah menyirnakan para penghuninya

أين الملوك التي كانت مسلطنة...حتى سقاها بكأس الموت ساقيها

Dimanakah para raja dan pimpinan yang dahulu berkuasa? Agar mereka bisa meneguk cangkir kematian

لا تركنن إلى الدنيا فالموت...لا شك يفنينا ويفنيها

Janganlah engkau condong kepada dunia, karena tidak diragukan lagi bahwa kematian pasti akan membuat dunia sirna dan mebuat kitapun fana

واعمل لدار غدا رضوان خازنها...والجار أحمد والرحمن بانيها

Hendaknya engkau beramal untuk rumah masa depan yang isinya adalah keridoan Allah, dan tetanggamu adalah Nabi Muhammad serta yang membangunnya adalah Ar-Rohman (Allah yang maha penyayang)

قصورها ذهب والمسك طينتها...والزعفران حشيش نابت فيها

Bangunannya terbuat dari emas, dan tanahnya menghembuskan harumnya misik serta za'faron adalah rerumputan yang tumbuh di tanah tersebut

أنهارها لبن مصفى ومن عسل...والخمر يجري رحيقا في مجاريها

Sungai-sungainya adalah air susu yang murni jernih, madu dan khomr, yang mengalir dengan bau yang semerbak

والطير تشدو على الأغصان عاكفة...تسبح الله جهرا فى مغانيها

Burung-burung berkicau di atas ranting dan dahan di atas pohon-pohon yang ada di surga
Mereka bertasbih memuji Allah dalam kicauan mereka

فمن يشتري الدار في الفردوس يعمرها...بركعة في ظلام الليل يحييها

Siapa yang hendak membangun surga firdaus maka hendaknya ia memenuhinya dengan sholat di dalam kegelapan malam

Minggu, 19 Februari 2012

Bersedekah di Malam Hari

H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah


Kala itu, salah satu gerbang negeri Naisabur dijaga beberapa ulama mujahidin, guna mencegah masuknya musuh ke negeri tersebut. Namun sayang sekali, bantuan materi dari pusat terlambat, hingga mereka gundah. Di saat krisis itu, Abu Utsman Al Hirri yang bertanggung jawab akan hal itu menerima bantuan dari Abu Amru bin Nujaid, seorang ulama hadits dan ahli zuhud, sebesar 1000 dinar.



Esok harinya, dengan gembira Abu Utsman mengundang Abu Amru untuk duduk di sebuah majelis yang dihadiri banyak orang. Di kesempatan itu Abu Utsman mengatakan,”Wahai saudara-saudarku, aku mengharap agar Abu Amru memperoleh pahala besar, karena ia telah mewakili beberapa orang dalam ribath (melakukan penjagaan) dan telah memberi bantuan sekian-sekian…”



Namun setelah podato tersebut Abu Amru malah berdiri di hadapan hadirin dan menyampaikan,”Sesungguhnya harta yang saya berikan adalah harta ibu saya dan beliau tidak ridha, maka mestinya harta tersebut dikembalikan kepada saya untuk saya kembalikan kepada beliau.”


Setelah itu, Abu Utsman memerintahkan untuk mengembalikan kantong yang berisi harta yang cukup banyak tersebut kepada Abu Amru, dan para hadirin pun bubar.

Namun, ketika malam tiba, Abu Amru mendatangi kembali Abu Utsman dan mengatakan,”Anda bisa memanfaatkan harta ini untuk keperluan seperti kemarin, dan tidak ada yang tahu akan hal ini kecuali kita.”
Setelah mendenyimak kata-kata Abu Amru, Abu Utsman pun menangis haru melihat upaya Abu Amru untuk menyembunyikan amalan kebaikannya, walau mungkin manusia telah kecewa terhadap apa yang ia lakukan sebelumnya dengan meminta kembali uang 1000 dinar itu dan mengaku bahwa uang itu bukan miliknya. (Lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 3/332)

Rabu, 08 Februari 2012

Guru Yang Berjualan Pedang Kepada Perampok




H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah

Imam Al Ghazali rahimahullah berpesan kepada pencari ilmu agar mereka meluruskan niat dan tidak menggunakan ilmu untuk perbuatan maksiat semisal untuk menonjolkan diri, menarik perhatian manusia atau perbuatan buruk lainnya. Jika itu ditempuh maka si pencari ilmu telah mengorbankan akhiratnya demi dunia.
Bukan hanya si murid yang rugi, dalam hal ini guru juga terkena imbas. Imam Al Ghazali menyampaikan”Dan gurumu yang merupakan penolongmu terhadap maksiyatmu dan ikut serta dalam kerugianmu. Ia bagaikan seorang yang menjual pedang kepada perampok.” (lihat, Al Maraqi Al Ubudiyah, hal. 3)

Sebab itu, bukan hanya murid yang perlu mancari guru yang baik. Guru pun perlu melihat kepada siapa ilmunya layak diberikan. Karena ilmu yang diberikan kepada murid yang memiliki nait buruk terhadap ilmu itu, akan memberikan jalan kepada si murid untuk melakukan kemaksiatan.

Musibah Menemukan Peti Penuh Dinar

H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah

Imam Syamsuddin Abdurrahman Al Maqdisi suatu saat menggali tanah di gunung As Shalihiyah karena suatu hal. Di tengah aktifitas itu, ulama madzhab Hanbali ini menemukan peti penuh dengan dinar. Imam Al Maqdisi sontak mengucap,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Beliau menilai bahwa hal itu merupakan musibah dan membiarkan kotak itu serta menutup galian seperti semula “Ini merupakan musibah. Kemungkinan barang ini ada pemiliknya, sedangkan kita tidak tahu”, ucap Imam Al Maqdisi kepada istri beliau yang waktu itu membantu untu menggali.


Imam Al Maqdisi juga meminta agar istri beliau tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapa saja. Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa Imam Al Maqdisi membiarkan kotak itu karena wara’, meskipun beliau termasuk orang yang faqir. (Syadzarat Adz Dzahab, 5/406)

Memandang Orang Lain dengan “Mata Tawadhu’”

H. Akbar
Ketua Yayasan Arrafiiyah


Imam Al Ghazali rahimahullah memberi nasihat agar kita jangan sampai melihat diri kita lebih baik. Karena kebaikan yang hakiki adalah dari penilaian Allah di akhirat kelak dan itu masalah ghaib. Hal itu juga tergantung dengan keadaan bagaimana keadaan kita waktu meninggal.



Sebab itu, Imam Al Ghazali pun menyampaikan agar kita memandang pihak lain dengan kacamata tawadhu’,”Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu, 'Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku. Jika engkau melihat orang yang lebih tua katakanlah,’Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.’ Jika melihat orang alim (pandai), katakan,’Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya.’Jika dia bodoh, katakan dalam hatimu,’Orang ini bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu. Maka, hujjah Allah terhadap diriku lebih kuat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya dan akhir hidupku.’ Jika orang itu kafir, katakan,’Aku tidak tahu, bisa saja dia menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditututup dengan amalan yang baik dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku, dan aku berlindung kepada Allah dari hal ini, bisa saja Allah menyesatkanku, hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat sedangkan aku jauh darinya.’” (Maraqi Al Ubudiyah, hal.79)

Selasa, 07 Februari 2012

Ketika Zaman Sudah Berbicara Kepada Penguasa

Yahya bin Khalid Al-Barmaki sebelumnya amat dekat dengan Harun Ar Rasyid, karena istrinya merupakan ibu sepersusuan Ar Rasyid. Penghormatan Ar Rasyid kepada Yahya pun sangat besar, hingga diangkatlah ia menjadi menteri dan selalu diajak berunding untuk memutuskan perkara-perkara besar. Para putra Yahya sendiri diangkat menjadi gubernur di beberapa wilayah.


Namun keadaan berbalik setelah ada perselisihan antara Yahya dengan Ar Rasyid, karena dinilai keluarga Yahya terlalu banyak mencampuri urusan istana. Hingga Yahya dan para putranya dikurung dalam penjara.

Saat sama-sama tinggal di penjara, Jakfar putra Yahya berbicara kepadanya ayahnya ,”Wahai ayah, setelah kita bebas melarang dan memerintah serta memiliki banyak harta, kini kita sepanjang masa berada dalam belenggu dan penjara.”
Maka, ayahnya menjawab,”Wahai anakku, bisa saja ini karena doa orang yang terdzalimi. Dimana kita tidak menghiraukannya namun Allah tidak pernah membiarkannya.”

Kemudian Yahya pun bersyair,”Kadang kaum pada awalnya dalam kenikmatan. Masa-masa dipenuhi dengan kekenyangan air melimpah. Sedangkan zaman mendiamkannya sementara. Tatkala zaman berbicara mereka pun menangis darah.” (Tarikh Al Baghdad, 14/128, 132)