Anak kecil mana yang tidak lucu? Pun juga murid-murid ku, walau
mereka sudah mulai beranjak remaja bahkan sudah ada beberapa di
antaranya memasuki jenjang SMP semester depan, namun bagiku mereka
tetaplah anak-anak yang polos dan lugu. Kebandelan mereka di kelas dan
terkadang suka malas menghafalkan ayat pendek yang ku tugaskan sedikit
pun tidak mengurangi rasa sayangku kepada mereka. Walau terkadang aku
suka jengkel juga, ketika mereka bersemangat menceritakan artis Korea
kesukaan mereka namun tidak antusias dengan Sirah Nabawiyah yang
ku coba ceritakan semenarik mungkin. Hah… salah siapa ini? Aku gurunya
yang tidak bisa menciptakan suasana kelas yang asyik… atau tantangan
zaman yang memang sudah sebegitu hebatnya. Terkadang aku berfikir keras,
bagaimana caranya pelajaran Islam bisa disampaikan dengan metode yang
sedemikian kreatifnya sehingga tidak kalah dengan Girl Generation ataupun Super Junior. Ada yang puny ide? Hmmfph…
“Laoshi[1]…”
Alika, gadis manis blesteran Taiwan-Pakistan mampir ke meja ku. Ku
tutup bahan ajar yang baru saja kusampaikan di kelas dan membalas
panggilannya dengan sebuah senyuman.
“Yaps…?” respon ku kemudian.
Alika tersenyum tak kalah manisnya, dan seperti biasa agak sedikit
malu-malu melanjutkan kalimatnya.
“Papa mengajak Laoshi makan malam hari ini, Laoshi sibuk nggak?”
“Makan malam?”
“Um…”
Alika mengangguk mantab dan menjelaskan bahwa Papanya ingin menjamu Aa
Gym, yang kebetulan diundang para pekerja ke Taiwan. Rekan-rekan pekerja
di Taiwan memang rutin mengadakan tabligh akbar dan dai kondang di
tanah air rutin dihadirkan untuk menarik minat para jamaah.
“Oke…”
jawabku singkat. Barangkali saja Mr. Hisyam, ayahnya Alika membutuhkan
penerjemah. Walau bahasa Cina ku masih sangat ala kadarnya, tapi
tampaknya masih lumayan jika dibandingkan dengan Aa Gym, hehehe.
“Xie-xie Laoshi…”
Alika tersenyum lebar, ku tatap senyuman yang begitu manis. Alika
sungguh benar-benar cantik… dengan kulit putih warisan ibunya dia
memiliki bola mata yang bulat turunan dari ayahnya. Bibirnya penuh dan
berwarna pink, bulu matanya lentik dan alis matanya tebal, ditambah lagi
bola mata berwarna kecoklatan yang selalu berbinar-binar.
“Bu ke qi…” ku colek hidungnya, dan kini dia tersenyum tersipu malu-malu.
***
“Mencari
pasangan yang bagus agamanya itu sangat penting….” Mr. Hisyam memecah
keheningan di dalam mobil sedan mungilnya. Hanya ada dia, aku dan Alika
yang sudah tertidur. Alika duduk di depan, di sebelah Mr. Hisyam dan aku
di belakang.
Sama sekali tidak ingat, tadi kami berbicara apa,
hingga Mr. Hisyam bercerita panjang lebar mengenai pasangan hidup.
Bahkan kini dia mulai bercerita mengenai istrinya.
“Istriku sangat
parah….” Lanjutnya, menatap nanar ke arah jalan. Sebenarnya aku tidak
suka dia bercerita mengenai istrinya, namun aku pun tidak punya cara
untuk menghentikannya.
“Bagaimana dia bisa memberikan pendidikan
agama yang bagus untuk anak-anaknya jika dia tidak mau belajar agama
dengan baik?” Keluh Mr. Hisyam. Ternyata istri Mr. Hisyam merupakan
orang Taiwan yang memeluk Islam setelah menikah dengannya. Berdasarkan
penuturannya, istrinya hanya sekedar bersyahadat dan tidak makan babi
saja, selepasnya dia tidak mau peduli dengan segala hal yang berkaitan
dengan Islam yang menurutnya memberatkan. Hah… kisah yang sangat umum
memang di Taiwan, pemuda ataupun pemudi yang masuk Islam hanya demi
sebuah pernikahan.
“Tapi kamu kan kepala keluarga… kamu yang
seharusnya mendidik, mengajarkan dan mengarahkan istrimu.” Balasku.
Karena bagaimanapun.. itu tugas kepala keluarga kan? Dan sebelum
memutuskan, semestinya mereka sudah paham akan menghadapi permasalahan
ini?
“Kamu tidak kenal istriku… dia orangnya keras kepala sekali.”
Kali ini aku tidak ingin beradu argumen lagi. Ku dengarkan saja
ceritanya, barangkali dia memang butuh teman untuk berbagi unek-unek.
Untungnya perjalanan dari Restoran Halal di pusat kota ke asrama ku
hanya memakan waktu tiga puluh menit saja. Jadi aku tidak usah
berlama-lama mendengarkan keluh kesah Mr. Hisyam.
“Jazakallah…” ucapku dan mendaratkan ciuman ke pipi Alika yang masih tertidur pulas. Capek sekali tampaknya.
“Waiyyaki…” balas Mr. Hisyam cepat dan memutar arah mobilnya setelah memastikan aku masuk ke dalam asrama.
Cerita
Mr. Hisyam mengenai keluarganya masih terngiang-ngiang, bahkan setelah
membersihkan diri dan bersiap-siap ke peraduan. Hm… tentunya ini bukan
satu-satunya kasus terhadap pasangan seperti Mr. Hisyam dan istrinya. Ya
Allah… berikanlah hidayah-Mu…
***
Suasana kantor masjid
terasa panas, panas luar dalam padahal musim panas masih dua bulan lagi
menjelang. Tidak tahu apa yang terjadi, namun segerombolan pekerja
Indonesia yang aktif di masjid tengah duduk berkerumun di salah satu
pojok kantor. Aku tidak tertarik dengan apa yang tengah mereka
perbincangkan, makanya hanya numpang lewat saja dan mengambil tas yang
tergeletak di sebelah mereka.
“Wanita sok alim ini nih salah
satunya.” Seorang mbak dengan penuh amarah mengucapkan kata-kata yang
penuh unsur sarkasme tersebut.
“Wah… lagi perang dunia nih
kayaknya…” bisik hati kecil ku. Ku percepat langkahku dan segera pergi
menyelamatkan diri. Aku paling tidak suka terlibat dengan permasalahan
para pekerja, karena biasanya hanya karena permasalahan kecil yang
dibesar-besarkan.
“Lihat saja kan… pasang muka tak berdosa gitu.”
Kalimat memojokkan lainnya, dari wanita yang sama tampaknya. Tidak
ingin nguping, tapi terdengar.
“Yakin mbak ini?” kali ini suara Mas Ardi yang terdengar, ketua para pekerja di masjid tersebut.
“Mbak
Dewi… Mbak…” terdengar suara Mas Ardi memanggil namaku. Huaaaa…. Maksud
hati mau kabur malah dilibatkan gini. Sedikit enggan, kubalikkan
tubuhku yang sudah sampai di depan pintu.
“Ya Mas?”
“Bisa ke
sini sebentar nggak mbak?” Huks…. Gimana mau jawab tidak? Akhirnya
dengan berat, ku mendekat dan duduk di antara mereka. Tatapan mata yang
ada di situ tampak tidak bersahabat. Dua orang mbak-mbak, yang satu
berurai air mata, yang satu membelalak ke arah ku. Mbak-mbak dan mas-mas
yang hadir pun turut mengalihkan pandangan ke arah ku disertai
bisik-bisik. Risih… sangat sirih sekali berada di sana.
“Ada apa mas?” tanyaku penuh basa-basi.
“Ayo
mbak Ulfa silakan diklarifikasi.” Mas Ardi menujukan kalimatnya ke
salah satu di antara wanita yang sedang bersengketa tersebut. Ternyata
yang bernama Ulfa mbak yang tidak henti-hentinya melotot ke arah ku, dan
yang tadi berkata-kata kasar. Kayaknya kata-kata kasarnya ditujukan ke
mbak satunya, yang masih saja berurai air mata.
“Mas Ardi saja… emosi saya mas! Emosi!” Mas Ardi tampak enggan, namun dia tidak punya pilihan.
“Jadi
begini mbak Dewi…” Mas Ardi memotong kalimatnya, menunjukkan betapa
berat bagi beliau untuk melanjutkan kalimat berikutnya.
“Sebelumnya saya mohon maaf ya mbak… Tapi ini kita ingin tabayyun…
dan meluruskan semua permasalahan yang ada. Apalagi berita ini sudah
beredar di antara mbak-mbak, nama Mbak Dewi bisa buruk gara-gara hal
ini.” Mas Ardi kembali memotong kalimatnya, dan perasaanku mulai nggak
enak. Setelah berkali-kali memperbaiki posisi duduknya, akhirnya Mas
Ardi menjelaskan apa yang terjadi, persengketaan antara Mbak Ulfa dan
Mbak Wati. Mbak Ulfa yang dicampakkan, karena sang pria bertemu dengan
Mbak Wati. Aku menyimak baik-baik dan terus menebak apa sangkut pautnya
dengan diriku.
“Nah… beliau juga menyatakan, bahwa sebelum dengan mbak Wati dan mbak Ulfa, beliau memiliki hubungan khusus dengan Mbak Dewi.”
“H-E-HHHH Apa???” tanyaku terkejut
“Huh…
pakai acara pura-pura terkejut lagi.” Mbak Ulfa masih saja sinis
terhadapku, tampaknya dia benar-benar sakit hati dicampakkan.
“Maa-mas
dan mbak-mbak semua, saya memang tidak pernah ada hubungan istimewa
apapun dengan beliau. Silahkan orang yang bersangkutan di telpon dan
dihadirkan ke sini… untuk mengklarifikasi semuanya. Terus terang, saya
merasa dirugikan dalam hal ini.” Jawabku tegas. Rasa kesal ku telah
menjalar ke ubun-ubun. Astaghfirullah … sungguh aku tidak habis pikir, bisa-bisanya orang membuat fitnah terhadap dirinya sendiri.
“Iya
Mbak… Tapi kita tidak ingin hal ini menimbulkan permasalahan di masjid.
Karena bagaimana pun beliau orang penting di masjid. Jangan sampai,
gara-gara hal ini, beliau jadi menarik diri dari masjid.” Tambah Mas
Ardi, bijaksana.
“Saya paham mas. Namun ini memang harus
dituntaskan oleh orang yang bersangkutan. Mas tahu siapa saya, dan saya
benar-benar tidak pernah memiliki hubungan istimewa dengan beliau. Dan
kalau mbak-mbak ini sedang berseteru memperebutkan beliau, itu urusan
kalian, saya jangan dibawa-bawa.” Kutatap mbak Ulfa dengan tajam,
menaikkan posisiku bukan di tempat yang bisa di hujat dan dimarahi
seenaknya. Kali ini matanya tidak berani lagi melotot ke arahku.
“Saayyaa..saaayyyaa
juga tidak ingin masalah ini berkelanjutan…. Sayyaa… sayyaa..
huhuhuhu…” Mbak Wati yang sedari tadi diam mencoba angkat bicara, namun
yang ada justru isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
“Saya
tidak pernah ingin merebut pacar orang… Beliau waktu itu bilang ingin
menikah dengan saya… Makanya saya sambut niatnya dengan baik… karena
saya juga sudah ingin menikah secepatnya…. Saya sama sekali tidak tahu…
kalau ternyata beliau juga menjanjikan hal yang sama ke Mbak Ulfa dan
Mbak Dewi…”
“Mbak… saya tegaskan… saya tidak punya hubungan apapun dengan beliau!” potongku kesal. Mbak Wati tidak menggubris kalimat ku.
“Mbak-mbak
ini pada tau kan kalau beliau sudah menikah? Sudah punya istri dan anak
dan belum bercerai hingga detik ini??? Dan mbak-mbak tau nggak hukum di
Taiwan, kalau seorang pria hanya diperbolehkan memiliki seorang
istri???” Aku semakin kesal dengan “kebodohan” mereka.
“Ini saya
kembalikan saja… Saya tidak mau benda suci ini justru menjadi awal
persengketaan…” Mbak Wati menyodorkan sebuah Al-Qur’an terjemahan bahasa
Indonesia ke Mas Ardi. Mas Ardi meminta Mbak Wati untuk tetap
menyimpannya, namun beliau menolak dengan air mata yang mengalir semakin
deras.
“Ho… jadi itu penyebabnya!” gumam ku dalam hati. Sekarang semua permasalahan jelas sudah!
***
“Sister…
ini saya punya Al Quran dengan terjemahan bahasa Indonesia.” Adegan
yang terjadi beberapa bulan yang lalu hadir kembali ke memori ku. Saat
Mr. Hisyam menghampiriku yang tengah berada di ruang kantor masjid, dan
menyodorkan sebuah Al-Qur’an cantik berwarna abu-abu. Ku sambut
pemberiannya dengan senang hati.
“Jika ada teman-teman yang
membutuhkan, mereka bisa menghubungi nomor saya. Tinggal sms kan nama
dan alamat mereka, saya akan langsung kirimkan. For free.. !” lanjutnya kali ini menyodorkan kartu namanya.
“Wow.. subhanallah…
Anda juga bisa titipkan beberapa Al Quran ke saya, nanti bagi mbak-mbak
yang datang ke masjid dan butuh Al Quran terjemahan bahasa Indonesia,
saya tinggal kasih.”
“Tidak… kamu berikan saja nomor telpon saya, nanti saya yang akan kirim langsung ke mereka.”
“
Hm… okey…. Anda baik sekali.” Jawabku kemudian, tanpa rasa curiga
apapun. Yang ada di pikiranku hanya betapa baiknya Mr. Hisyam dan sangat
peduli dengan rekan-rekan muslim lainnya. Pemerintah Indonesia yang ada
di Taiwan saja… belum pernah menghadiahi warganya Al Quran terjemahan
bahasa Indonesia. Sedikit pun aku tidak pernah berfikir, bahwa
kebaikannya itu merupakan cara untuk menggaet pekerja-pekerja dari
Indonesia. Dia memang pernah menyampaikan kepadaku, bahwa dia iri dengan
pria-pria yang menikahi wanita Indonesia. Karena dalam pandangannya
wanita Indonesia begitu lembut, penurut, dan paham akan agama. Sosok
ideal dalam bayangannya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Lagi…
bagiku dulu itu hanya sekedar pandangan saja… sekedar pendapat saja…
Bukan sebuah obsesi yang menjadikannya orang yang berani melakukan
hal-hal di luar batas.
“Laoshi……” Alika yang baru beres dari kelas berlari menuju kea rah ku, yang hendak keluar dari area masjid.
“Alika…”
ku peluk gadis manis tersebut, dan seperti biasa, menghadiahkan ciuman
di kedua pipi nya yang lembut. Dari kejauhan tampak sosok Mr. Hisyam,
yang baru saja turun dari mobilnya. Dia datang ke masjid untuk menjemput
anaknya. Dia melambai kan tangan dari jauh, tidak ku hiraukan dan
buru-buru menuju pemberhentian bus.
Sembari menunggu bus datang, cepat kuraih telpon genggamku dan menelpon temanku…
“Yow… Dew-dew… ada yang bisa kubanting?” balas suara dari ujung sana.
“Hentikan penyebaran no Mr. Hisyam.. no untuk mendapatkan Al Qur’an secara gratis itu lho… “
“Wow.. ada yang serius tampaknya nih…”
“Iya pake banget… I’ll tell you later. Ini mau naik bus dulu.” Jawab ku singkat dan segera naik ke atas bus. Beep.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar